Saat pertama berpikir membuat iklan profil sekolah saya mencoba keluar dari bingkai biasa. Profil yang akan jadi nantinya, saya harapkan memiliki nilai literasi kepada masyarakat yang melihatnya. Dan mulailah saya produksi dengan kossep filmis yang mengedepankan penanaman citra lebih dalam dengan harapan para calon orang tua siswa sudah jauh hari menyiapkan kelak anaknya jika SMA masuk di sekolah tempat profil itu dibuat. Dan alhasil sebuah profil yang sangat berbeda dibanding kebanyakan profil sekokah lainnya hingga menginspirasi sekolah lain membuat profil sekolah dengan konsep yang sama.

Kini budaya itu telah tertanam dan mungkin sudah sekitar 12 profil yang diproduksi sejak pertama di produksi 12 tahun silam. Hingga suatu hari saya menyadari ada kesalahan yng dibuat ketika citra mulai terbentuk. Apa itu? Saya menyadari ada pembangunan dan produksi yang semestinya didahulukan sebelum profil itu dibuat. Yaitu kondisi riil yang terjadi dibalik profil itu. Apakah sebuah pencitraan yang dibuat kondisinya sesuai dengan kenyataan atau tidak. Apakah gambaran yang disajikan seperti yang di ceritakan atau tidak. Nah inilah yang menjadi kesalahan dan beban hingga kini.

Sehebat apapun branding yang dibuat bila tidak sesuai dengan kenyataan maka akan melemahkan secara perlahan bagi institusi yang dibranding. Dan alih-alih lain membuat mereka memaksakan diri untuk memenuhi seperti apa yang dibranding. Ambil contoh, dalam branding digambarkan setiap kelas dilengkapi televisi, lcddan wifi, pada kondisi nyata saat branding dibuat belum ada, maka sejak branding dijalankan institusi tersebut akan berusaha memenuhinya, tanpa memikirkan apa fungsi utama dari media dan fasilitas yang dibrandingkan. Apa tujaun alat-aat atau media itu dipasang, bagaimana menggunakannya, dan seterusnya.

Dan saat ini banyak institusi seperti itu, bila dalam dunia konsumen ini bisa masuk pembohongan publik. Bila terpenuhi pun hal ini membuat konsumen rugi juga karena apa yang ada tidak betfungsi sebagaimana yang diharapkan. Seperti televisi disetiap kelas , jika jujur coba jawab “apa fungsi televisi tersebut ada didalam kelas?”, maka jawabannya hampir tidak berfungsi kecuali nonton tv kabel yang terlanjur langganan. Atau juga lhat contoh lain apa fungsi fasilitas Wifi terpasang disekolah, bila jujur coba jawab? Hanya satu dua guru yang menggunakan sebagai fasilitas belajar mengajar, selebihnya wifi berfungsi memberi failitas akses gratis saja bagi penghuninya dan ujungnya berlomba menonton siaran youtube yang tidak ada sensornya.

Nah sudahkah istitusi sekolah menyadari ini? Masih begitu banyak hal lain yang musti dipikir lebih dalam ketimbang cuman branding. Sebab institusi sekolah berbeda jauh dengan perusahaan bila ada yang mengatakan sama maka yang sama pun adalah mengambil nilai-nilai manajemennya. Dan Anda bisa memilih dua hal yang menurut saya penting untuk dipilih, “Branding dulu baru penuhi?” , atau “sesuaikan dulu semuanya dan Branding tercipta?”. Semua tergantung Anda pengelola utama institusi. Sebuah saran dari saya ketika diminta membantu beberapa institusi yang sama bergerak dibidang pendidikan yaitu, habiskan waktu dan anggaran untuk membangun sistem pendidikan dan majemen yang kuat, lalu kuatkan dasar pondasi karakter yang lebur dalam perilaku sehari-harinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Klo punya komen tulis disini
Silahkan masukkan nama disini