Sejak sekolah hingga hari ini saya melihat musholla atau masjid itu belum menemukan hikmahnya. Seakan tempat ibadah itu tempat memarahi dan mengomeli para siswa. Masih segar ingatan 25 tahun silam guruku yang juga sama hari itu berdiri disana mengucapkan kalmat sama kepada siswanya. Ada kesedihan bercampur kekecewaan. 25 tahun bukan waktu yang pendek. 25 tahun, hari ini semakin melihat penurunan yang sistematis. Entah dimana letak kekurangannya.

Betapa tidak, masuk menjadi murid pertama kali mereka sudah mendapat materi keislaman, tidak lama ada momen puasa selama tiga tahun, belum lagi ada malam khusus pembinaan islam, pengajian kelas, pengajian bulanan, dan materi keislaman setiap minggu selama sekolah. Namun bebal rasanya mereka. Itu kata sebagian para gurunya. Mereka pun mulai membincangkan murid A, lalu berlanjut ke murid B, lalu C, D dan seterusnya dalam setiap pertemuan sesama guru. Seakan murid itu penuh dengan kesalahan. Belum lagi bila mereka melakukan pelanggaran maka seolah seluruh penghuni menghakiminya.

Bagi saya mereka yang disebut murid (termasuk saya hari ini masih disebut murid karena proses belajar terus menerus) adalah lembaran putih kosong yang siap ditulis atau diberi coretan gambar apapun. Karena lembaran putih maka apapun objek, coretan dan tulisan yang muncul tergantung siapa yang menulisnya. Bila ditulis kata-kata puitis maka yang terlihat dan terbaca adalah keindahan berbahasa, jika yang dicoret adalah warna warni keagungan alam maka yang dinikmati adalah perilaku yang cantik. Dan bila semburan hitam tidak berpola maka yang terlihat dan terbaca adalah abstraksi yang tak bermakna.

Saya pernah diajari rekan guru hebat, katanya penuhi dirimu dengan kasih, cinta dan sayang bila engkau menjadi guru, bukan membicarakan keburukan dan kekurangan muridmu, sebab bila membicaraknnya maka sejatinya engkau membicarakan apa yang sudah engkau ajarkan kepada mereka. Terhenyak saya sejak itu. Sebab berarti selama ini saya tengah membicarakan kelemahan saya kepada sesama guru saat mengupas kekurangan murid. Ya benar mereka adalah lembaran putih tulisan yang terbaca adalah karya kita, lukisan yang terlihat adalah lukisan kita dan makna yang dirasa adalah makna yang telah kita berikan.

So sejak itu saya belajar memperbesar rasa kasih, cinta dan sayang kepada mereka para murid. Saya belajar bersabar sebelum menuliskan kalimat kepada lembaran putih mereka, saya belajar membayangkan keindahan dulu sebelum melukis pada lembarannya dan terakhir saya belajar bahwa jejak kita akan tertinggal bukan hanya sampai kiamat tiba, namun sampai nanti apakah pintu syurga terbuka untuk kita atau kita diminta menunggu untuk memasukinya.

Inilah pelajaran branding terhebat yang pernah saya dapat. Karena branding yang berhasil adalaha apa yang kita lakukan dengan istiqomah dan berada pada jalur kebaikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Klo punya komen tulis disini
Silahkan masukkan nama disini