Lihatlah sekolah-sekolah sekarang berlomba membranding sekolahnya. Mereka bak petusahan-perusahaan kecil yang baru muncul, menyusun dan mencari formula apa yang bisa dibranding. Kegiatan-kegiatan sekejap pun di rancang dan dibuat agar memiliki nilai jual berita yang tinggi. Kerja mereka tak lebih seperti memproduksi barang baru yang bagaimana caranya agar pembeli mau datang dan membeli. Mereka seolah sudah puas apabila kegiatan atau apapun yang dilakukan sekolahnya muncul dalam headline berita dan viral.

Diujung lain lihatlah ada sekolah yang ketakutan karena melihat sekolah sekolah besar yang berkembang seperti semakin besar karena dana yang dimiliki begitu besar sedang mereka terbatas. Ini membuat mereka menjadi gelisah, sekalinya ada dana mereka mencoba mengikuti gaya sekolah besar yang membranding sekolah tanpa menyadari resources yang dimiliki jauh dari gambaran branding yang dibuat. Dan ini membuat mereka setengah fokus menyusun dan merancang pendidikan yang dijalankannya.

Disatu sisi ternyata masih banyak ditemui sekolah-sekolah kecil yang penuh idealis menyusun dan merancang sekolahnya agar murid-murid mereka bisa menjadi generasi yang hebat kelak dikemudian hari, tanpa takut apakah mereka masuk berita atau tidak. Tanpa takut sekolahnya dapat murid atau tidak, mereka fokus membuat sekolah mereka menjadi yang terbaik dan ini bisa dikatakan sebagai tabungan.

Branding, branding dan branding. Ketiganya adalah pola branding yang berjalan. Tinggal memilih yang mana, atau juga mau menggabungkannya. Namun yang jelas sekolah bukanlah sekedar branding. Jauh dari itu sekolah memiliki visi yang murni sebagai lembaga pembuat perubahan dimasa depan. Sekolah tidak boleh melupakan bahwa mereka bukanlah perusahaan sekdar seperti yang digambarkan oleh sertifikasi ISO yang mungkin banyak sekolah memilikinya. Karena produk sekolah bukanlah barang dan juga bukan sekedar jasa. Produk sekolah mengemban jauh lebih besar dari itu semua. Karena juga tanpa branding sekolah masih tetap akan bisa berjalan. Karena kapitalisasi yang menggurita membuat sekolah fokus kepada branding dijaman sekarang.

Dari ribuan sekolah kita bisa lihat hanya ratusan bahkan puluhan saja yang sengaja membranding sekolahnya bak perusahaan. Dan itu apakah sekolah kita bagian darinya. Tergantung Anda pengelola sekolah. Janganlah takut tidak dapat murid tapi pertimbangkan memilih jalan benar dari tujuan sekolah itu ada. Branding atau tidak dengan branding bila proses sekolah itu benar maka murid dimanapun berada akan mencarinya. Seperti kita pernah melihat film kungfu cina cerita-cerita novel persilatan, guru terbaik didalam sekolah terbaik akan dicari oleh para murid agar mereka menjadi yang terbaik.

Nah apakah kita (yang menjabat sebagai predikat Guru) sudah menjadikan dirinya sebagai yang terbaik, dengan prestasi terbaik, dengan perilaku terbaik, dengan etika terbaik, dengan kemampuan terbaik, dengan keterampilan terbaik, dan dengan ilmu yang terbaik, yang pada akhirnya menjadikan sekolah itu terbaik, dipenghujungnya maka kita bisa membayangkan sendiri bagaimana murid yang terbentuk.

TINGGALKAN KOMENTAR

Klo punya komen tulis disini
Silahkan masukkan nama disini