Ditahun 1997 saya berkesempatan satu ruang dengan kepala sekolah dalam bekerja sehari-hari tepat satu tahun masa kerja berjalan. Setelah sekolah sukses turut pameran di Tunjungan Plasa Convention Hall yang mengusung karya Sistem Informasi Perpustakaan buatan sendiri hingga membuat takjub para mahasiswa ITS waktu itu. Sayapun langsung dipindah seruang dengan kepsek sebagai eksekutif istilahnya 🙂 . Disinilah saya mulai banyak belajar tentang sook kepsek saat itu.

Hingga suatu hari sekolah disibukkan dengan rencana pengembangan gedung baru dan perluasan lahan. Kepsek meminta untuk saya untuk menyusun sebuah proposal. Saya sama sekali buta dengan proposal pengembangan, kalau proposal kegiatan seni oklah. Perlahan dan pasti saya kerjakan proposal itu dan secara bertahap kepsek membimbing secara detil bagaimana menyusun prolog, tujuan, detil anggaran hingga visi gambar pengembangan yang akan dibuat. Dia seperti seperti dosen yang tengah membimbing skripsi bagi saya. Disaat-saat itu juga saya belajar banyak bagaimana visi kepsek dibentuk dan dirancang hingga bagian terkecil. Bagi saya waktu itu sama dengan menemukan pemimpin yang mengerti secara holistik tentang apa yang dikerjakannya.

Saya belajar banyak bagaimana membangun sense of belong (rasa memiliki) hingga membuat pekerjaan apa saja yang dilakukan serasa ikut terlibat sebagai panitianya. Seolah bekerja itu tidak mengharapkan gaji (ini benar adanya dan Insya Alkah masih tertanam hingga tulisan ini dibuat). Saya belajar bagaimana loyalitas itu tumbuh tanpa banyak aturan dan tekanan perintah dari pimpinan. Loyalitas yang membuat saya gengsi memberikan inovasi baru yang saya buat untuk diberikan kepada sekolah lain sebelum sekolah ini menggunakannya terlebih dahulu. Saya belajar bagaimana kerja bersama hingga sampai dibela-belain datang diacara sekolah yang jauh diluar kota meski tidak masuk panitia dan tentunya tidak ada fee-nya.

Kepsek juga mengajari saya tentang apa itu murid? apa itu guru? apa itu pembelajaran? apa itu pengajaran? apa itu kurikulum? apa itu parenting? apa itu manajemen sekolah?, bahkan belajar apa itu relasi? dan apa itu politik? wah pokoknya paket komplit. Saya heran sekolah ini kecil tapi dahsyat ketika dipegang beliau. Dari beliau saya juga belajar bagaimana melihat masa depan, bagaimana menuliskannya dalam langkah-langkah untuk mencapainya. Bagaimana tidak beliau sudah menyusun bagaimana sekolah ini 30 tahun kedepan. Bagaimana gedung yang ada dikembangkan? bagaiamana lahan sekitar dibeli termasuk juga kemungkinan membeli sekolah dibelakang sekolah ini. Bagaimana kurikulum dibangun, yang saya ingat memadukan imtak dan iptek dan jadilah sekarang pendidikan karakter, bagaimana menjual bakat siswa sebagai nilai branding yang akhirnya hari ini sekolah ini banyak memiliki kegiatan ekstra siswa. Bagaimana mengembangkan skill guru yang akhirnya guru-guru sekolah ini dikenal hebat oleh sekolah lain bahkan oleh negara. Namun sayangnya saya tidak bisa lebih lama lagi menguras ilmu beliau hingga beliu digantikan oleh kepsek baru 3 tahun kemudian sejak seruang dengan beliau.

Hari ini 30 tahun kemudian sejak masa itu mustinya sekolah ini sudah memiliki visi tahap II pengembangan yang tertuang dalam sebuah buku kerja pengembangan hingga 2047 dimulai dari 2017. Yang terjadi adalah setiap ganti pemimpin ganti pula sistem yang dibangun, bahkan terjadi sama sekali meninggalkan sistem yang lama yang mungkin masih bagus, atau justru tidak menemukan hal baru atau inovasi baru seperti hanya menjalankan pekerjaan rutinitas saja. 30 tahun kemudian mustinya juga semua guru dan karyawan memiliki Sense of belong yang jauh lebih besar, loyalitas yang tumbuh jauh lebih tinggi, dan kebersamaan yang berkembang lebih menyeluruh. Alih-alih demikian yang saya dapati setiap personal sekarang lebih senang bila tidak terlibat, lebih suka bekerja dalam alamnya sendiri, dan lebih mengarah kepada materi meski tidak bisa dipungkiri namun selayaknya dihindari. Iklim kerja yang tumbuh seperti tidak ada benang merahnya antar satu individu dengan yang lain, satu unit dengan relasinya dan manajemen yang patah-patah.

Namun saya masih tetap bisa tersenyum karena ini adalah lembaga pendidikan bukan perusahaan. Dimana saya memperoleh lebih keuntungan bekerja sebagai guru eh maaf mengabdi sebagai guru. Selain dapat gaji saya memperoleh amal jariyah yang saya berharap notifikasinya tetap berbunyi ketika nanti ada diliang lahat sebagai jasad yang kaku dan hancur karena waktu. Bayangkan tiba-tiba notifikasi berbunyi “cruiiiing….” dan disana tertulis “si fulan muridmu mengajari adiknya dari ilmu yang kamu ajarkan”, “cruiiing…” terbaca “si fulan melakukan kebaikan yang kamu ajarkan”, “cruiiing…” …. “cruiiing….” lanjutkan sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Klo punya komen tulis disini
Silahkan masukkan nama disini