Dalam kata pembangunan, dapat digunakan dalam terapan bentuk fiksi juga fisik. Namun terbanyak dilakukan adalah pembangunan fisik. Ini memang tidak dapat dihindari karena sifat manusiawi yang ingin dilihat, diperhatikan lalu dipuji. Contohnya, terapan pembangunan akan memiliki manfaat yang besar dalam memulai sebuah kota baru dengan kumpulan manusianya disana. Surabaya dapat dikenal dunia karena fisiknya dibangun dengan konsep atmosfir lingkungan yang baik sebagai sebuah kota. Sebuah pabrik pun demikian membutuhkan pembangunan fisik yang sesuai dengan konsep kerja dari produk yang ingin dihasilkan. Lalu bagaimana dengan sekolah?

Sekolah jelas berbeda ketika memakai kata terapan pembangunan, sebab dalam sekolah terapan pembangunn yang utama adalah pada proses bukan fisik. Kita ingat ketika masa-masa sulit, sekolah dimulai tanpa fisik bangunan, berkumpul bersama, seorang guru duduk didepan, proses mulai berjalan dengan baik, dan terbentuklah murid-murid hebat. Lalu apa fisik tidak penting? Jangan, jangan terburu mengambil pertanyaan itu. Sekolah adalah sebuah keluarga dan bangunan utamanya adalah proses pendidikan. Ini yang terpenting. Ketika sekolah memiliki fisik bangunan yang buruk pun, namun bila prosesnya hebat, maka bentuk bangunan itu akan hilang terganti dengan bayangan sekolah yang super, saat orang membayangkan segala kehebatan proses sekolah, maka dalam benaknya sudah dilengkapi dengan bayangan fisik bangunan yang bagus.

Masih ingat laskar pelangi, andai kita tidak melihat fisiknya namun melihat murid dan alumninya yang hebat sekarang, maka kita akan membayangkan tempatereka berproses sebuah fisik bangunan sekolah yang luar biasa dengan hasil murid yang super, ini fiksi kita. Meskipun kenyataannya adalah bangunan sekolah reyot, namun bukan tidak mungkin suatu saat akan menjadi sekolah yang indah karena hasil pembanguan prosesnya. Artinya ketika sekolah telah memiliki bangunan, apalagi dengan bangunan beton bertingkat, semestinya sudah menjadikan kecukupan untuk lalu fokus kepada pembangunan proses manusianya, dan berhenti sementara fokus pada pembangunan fisik yang akan terus menjebak kita dalam lingkaran kapitalis.

Habiskan sumberdaya investasi kapital keuangan untuk membenahi pembangunan proses manusianya. Jangan takut bangunan fisik sekolah terlihat semakin jelek, jangan takut tidak diperhatikan, dan jangn takut tidak dipuji. Sebab dalam proses kebaikan bila kita mengharap perhatian dan pujian maka bersiaplah untuk kecewa. Yang segalanya dalam terapan bangunan sekolah sejatinya adalah amanah murid yang dibebankan kepada para guru, yang akan diminta pertanggungjawaban kelak di hadapan sang fiksi kehidupan.

Saya lebih menyukai Sekolah Fiksi ketimbang Sekolah Fisik. Karena nggak ada hebatnya bila fisik nggak sebanding sama penampilan dan perilaku manusianya. Sekolah bukan sudut pandang kamera, seperti yang ada dalam dunia medsos, foto cantik kenyataan menggelitik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Klo punya komen tulis disini
Silahkan masukkan nama disini