“Thoghut!!!”, semua langsung diam. Teman-teman yang ada di musholla semuanya terhenyak. Suara riuh yang awalnya memenuhi sesisi mushola tiba tiba menjadi hening.Thoghut sebutan untuk mereka yang melupakan Allah dan mengimani nafsunya. Ini sangat keras sekali, ini hingga hari ini terngiang di fikiran saya apa yang disampaikan guruku tersebut. Kebiasan ramai dan tidak menghormati Rumah Allah (masjid) kerap kali dilakukan oleh murid.

Entah karena apa tapi sampai hari ini setelah 30 tahun lepas sekolah, masih tetap saya temui sehari-hari disekolahku tersebut. Mereka seolah tidak menghormati dimana keberadaan mereka saat di masjid. Ini berlangsung hari demi hari sejak saya sekolah hingga hari ini hanya terpotong di masa-masa liburan saja, masjid jadi hening karena tidak ada orang. Setiap kali sholat dhuhur, setiap kali itu pula guru selalu marah bahkan kadang berteriak keras. Lalu kira-kira apa sebabnya?.

Jangan tanya saya apa sebabnya. sebab saya sendiri adalah bagian dari murid yang mengalami itu bahkan menjadi guru disekolah itu. Namun bila bertanya apa yang saya rasakan maka saya bisa bilang ada sesuatu yang salah pada sistem dan pribadi kita masing-masing. Sistem yang berupa kultur mustinya terbangun dan diayomi sehingga berjalan semakin baik. Kultur baik musti dirancang seperti merancang sebuah cerita film. Bagaimana prolognya, alurnya, hingga klimaks atau konklusi akhirnya. Budaya musti dirancang seperti proses kehidupan, disampaikan, dilakukan, dijaga secara istiqomah, dan bila terjadi kekeliruan diperbaiki bagian yang keliru bukan diganti.

Pribadi masing-masing, kata kunci dalam pendidikan. Sebab pendidikan itu tauladan. Sebelum membangun orang lain dibangun terlebih dahulu bangunan diri sendiri harus kokoh kuat dan baik. Maka otomatis lingkungan akan turut menjadi kokoh kuat dan baik. Murid-murid tidak patuh, murid kurang prestasi atau kekurangan-kekurangan yang lainnya adalah kekurangan dari orang tua dan guru. Murid adalah murid, mereka adalah orang yang belum tahu dan musti diberi tahu, musti dicontohin. Bila ingin murid juara nulis ya.. cikgunya harus pernah juara. Memang guru bisa membuat murid jadi baik dan juara namun bila tidak didukung oleh sosok gurunya, maka faktor penyumbang keberhasilan murid adalah kebiasaan dan keterampilan yang sudah dimiliki sebelumnya. So kalau sekolah bisa membuat murid jadi juara jangan bangga dulu, jangan-jangan disekolah sebelumnya dia memang sudah juara. Ini bukan lantas menyalahkan sekolahku. Karena perlu kita tahu bahwa pendidikan itu holistik atau menyeluruh yang berarti bagian dari siapa saja yang terlibat langsung dan tidak langsung. Namun juga jangan berputus asa karena kita bisa menciptakan juara-juara kebaikan dengan memotong budaya lama yang buruk dan mengenalkannya dengan kultur baru yang baik, dan tetap kata kuncinya kultur gurunya harus baik dulu.

30 tahun lalu saya membayangkan masa depan sekolahku seperti sekolah-sekolah non muslim yang ada d negeri-negeri maju. Dan hari ini menginjak 30 tahun dari apa yang saya bayangkan, saya menemukan kenyataan bahwa yang sangat terlihat berubah dari sekolah adalah bertambahnyai lahan dan bangunannya saja. Didalamnya saya masih merasa sama seperti waktu sekolah dulu, baik bagus dan maju tapi baik bagus dan maju ukuran jaman saya sekolah. Maka hari ini aku paksa diriku tidur dan mimpi kembali 30 tahun kemudian seperti apa sekolahku meski mungkin sewaktu menyaksikan saya sudah hampir 80 tahun, entah masih bugar atau seperti kakek-kakek seusianya atau bahkan sudah tinggal nama. Dan pastinya sekarang hanya tanam kebaikan saja yang harus kubesarkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Klo punya komen tulis disini
Silahkan masukkan nama disini